ASUMSI; KRISIS KEPEDULIAN DAN KEBANGKITAN INDIVIDUALISME.

 Hal yang mendasari saya dalam membuat catatan ini adalah; mengikisnya kepedulian sosial dan bangkitnya individualisme yang kompleks dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam konsepsi konstitusional kenegaraan indonesia tersurat dalam dasar negara sila ke-3 "Persatuan indonesia"—persatuan—adalah sebuah bentuk dari pelbagai elemen-elemen kemasyarakatan, gagasan, dan hal hal yang tampak berbeda menyatu dalam kediri-an yang tunggal, tentu hal yang berbeda pasti dilatar belakangi oleh rajutan akulturasi-akulturasi sosial yang berani.

Dalam proses sosial, persatuan-persatuan terbentuk akibat kesamaan pemahaman dan merasa bagian dari persatuan tersebut—sebagai contoh—kita sama-sama mengaku bahwa kita adalah bagian dari republik dan pasti akan berontak ketika rumah atau negara ada yang berniat merusaknya. Selain sifatnya mengikat atau protection, persatuan juga mengandung aksi sosial yang serasi.

Klasifikasi persatuan; dapat di kelompokan dalam tiga tataran, adalah tingkatan mikro yang merupakan proses-proses kesepakatan dirinya dengan konsepsi yang lebih besar (kelompok), kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu populasi, selanjutnya adalah tataran mezzo, yakni ketika individu memulai memercayakan suatu wadah yang berkesuaian dengan kepentingannya—misalnya dalam konteks negara, ia akan berbanyak-banyak menambah pengetahuan-pengetahuan dasar bahkan lebih dengan individu lain agar terlaksananya kesepakatan yang lebih besar—dengan demikian aksi sosial akan terwujud, dalam tataran yang lebih luas pelbagai kelompok meleburkan dirinya kedalam suatu wadah yang lebih besar, prosesi peleburan ini mencakup kesepakatan-kesepakatan, inilah yang disebut dengan makro.

Konsekuensi logisnya, adalah dalam proses persatuan mencakup pelbagai proses-proses yang sangat mendasar dalam kehidupan, seperti tumbuh suburnya nilai-nilai kemanusiaan, bermekarannya kepedulian-kepedulian antara satu dengan yang lain merupakan isi dari persatuan.

Dewasa ini, fenomena-fenomena yang di suguhkan malah sangat berbanding terbalik dari hal-hal yang di harapkan. Kepedulian menjadi tahayul, suburnya individualisme (sikap mementingkan diri sendiri) tumbuh beriringan dengan kondisi masyarakat kapitalis. Tentu – hal ini sangat kontras dengan masyarakat pedesaan, yang masih menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam menjalankan sistem-sistem sosial. 

Suatu penelitian dalam buku Community Development karya Jim Ife dan Frank—penelitian tersebut dilakukan di Australia hasilnya sangat mengejutkan, sebagian besar masyarakat merasakan ada sesuatu yang menghilang darinya, ya! Yang di maksud adalah kebutuhan akan komunitas.

Kepentingan-kepentingan kini mewarnai di setiap lini kehidupan, tidak ada satupun—bahkan dalam hal yang sangat normatif sekali—kita masih mengharapkan imbalan dari tuhan ketika beribadah, bukan merupakan bentuk penghambaan kepada rabb-Nya melainkan sebuah manifestasi dari kalkulasi terhadap Tuhan.

Comments